Ahli Perubahan Iklim Mengingatkan Urgensi Pengendalian Perubahan Iklim

Ahli Perubahan Iklim Mengingatkan Urgensi Pengendalian Perubahan Iklim

 

APIK Indonesia Network. Para pihak terutama pimpinan pusat dan daerah serta para anggota legislatif perlu menyadari urgensi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim untuk mendorong peningkatan kapasitas institusi dalam pengendalian perubahan iklim. Hal ini disampaikan Mahawan Karuniasa, Ketua Umum Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIKI Network) di Yogyakarta dalam pertemuan para ahli dan peneliti perubahan iklim dan kehutanan pada APIKI Scientists Gathering. Pertemuan tersebut merupakan bagian dari Pre Event Asia Pasific Rainforest Summit (APRS) yang diselenggarakan atas kerjasama Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi dan APIKI Network. Tema yang diusung yaitu implementasi Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+) untuk pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) atau komitmen Indonesia dalam pengurangan emisi gas rumah kaca berbasiskan Paris Agreement. Ketua National Focal Point (NFP) Perubahan Iklim, Nur Masripatin juga menggaris bawahi pentingnya peran REDD+ dalam upaya memenuhi komitmen Indonesia dalam reduksi emisi, karena 60% target reduksi emisi pada tahun 2030 berasal dari sektor NDC Kehutanan, yang sebagian besar berada di areal REDD+.

Dalam dokumen NDC nya, Indonesia berkomitmen untuk mereduksi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan kemampuan sendiri dan sampai dengan 41% jika melalui kemitraan international. Laporan perkembangan pengendalian perubahan iklim Indonesia ke 3 yang dilaporkan kepada United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), menginformasikan bahwa pada tahun 2014 emisi gas rumah kaca nasional mencapai 1,844 giga ton CO2 ekuivalen. Diperkirakan pada tahun 2015 saat terjadi kebakaran besar, emisi terus meningkat menjadi 1,995 giga ton CO2 ekuivalen. Apabila kondisi ini terus berlanjut, tanpa ada tindakan berarti, maka pada tahun 2030 diperkirakan emisi mencapai 2,869 giga ton CO2 ekuivalen. Situasi ini tidak hanya dialami Indonesia, namun juga oleh negara-negara lainnya. Artinya, kenaikan rata-rata suhu permukaan bumi diprediksikan masih akan menembus lebih dari 2 derajat Celcius pada tahun 2080 an, bahkan dapat lebih awal. Tentu saja dampak perubahan iklim seperti bencana hidrometeorologis akan terus mengalami peningkatan, baik banjir, longsor, angin ribut dan lainnya.

Selaku Ketua Umum, Mahawan Karuniasa memastikan bahwa para anggota APIKI Networks yang berasal dari 101 perguruan tinggi dan lembaga-lembaga terkait akan terus mendukung dan menggugah masyarakat, legislatif, pemerintah, khususnya melalui National Focal Point (NFP) untuk terus meningkatkan kapasitas institusi dan para pihak dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk memenuhi target emisi nasional tahun 2030, apalagi untuk mencapai tujuan global agar kenaikan suhu tidak melampaui 2 derajat Celcius.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.